Picture1

Kolaborasi Penelitian di Papua Barat: Kunjungan Tim MRIN ke Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Papua Barat dan Universitas Papua

Mengutip tulisan yang diunggah oleh BRIDA Provinsi Papua Barat melalui akun Instagram dan kanal WhatsApp resmi:

Pemetaan Dampak Migrasi Biologis dan Budaya Papua ke Daerah Wallacea_0
Pemetaan Dampak Migrasi Biologis dan Budaya Papua ke Daerah Wallacea_1

Tim peneliti dari Mochtar Riady Institute for Nanotechnology (MRIN) yang dipimpin Prof. dr. Herawati Sudoyo, MS, PhD melakukan pertemuan dengan Rektor Universitas Papua (Unipa), Prof. Dr. Hugo Warami, S.Pd., M.Hum di Rektorat Unipa, Manokwari, Rabu (20/5/2026). Pertemuan yang difasilitasi BRIDA Papua Barat ini membahas rencana kerja sama penelitian tentang “Pemetaan Dampak Migrasi Biologis dan Budaya Papua ke Daerah Wallacea”. Penelitian akan dilakukan di Papua Barat dan Papua Barat Daya, dengan fokus pada keragaman bahasa, sejarah populasi, serta dinamika genetik dan linguistik masyarakat Papua bagian barat. Rektor Unipa menyatakan dukungan penuh terhadap penelitian ini, sekaligus mengingatkan pentingnya menghormati sensitivitas budaya dan masyarakat adat Papua dalam setiap proses penelitian. Kolaborasi ini diharapkan menjadi langkah penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan, penguatan kapasitas SDM Papua, dan pembangunan riset yang berakar pada kearifan lokal.

Pemetaan Dampak Migrasi Biologis dan Budaya Papua ke Daerah Wallacea_6
Pemetaan Dampak Migrasi Biologis dan Budaya Papua ke Daerah Wallacea_7

Tim peneliti MOCHTAR RIADY INSTITUTE FOR NANOTECHNOLOGY (MRIN) yang dipimpin Prof. dr. Herawati Sudoyo, MS, PhD, mempresentasekan rencana penelitiannya di Manokwari, Selasa(20/5/2026). Penelitian bertajuk “Pemetaan Dampak Migrasi Biologis dan Budaya Papua ke Daerah Wallacea” ini akan menelusuri hubungan antara genetika, bahasa, dan sejarah migrasi manusia di Papua Barat dan Papua Barat Daya. Riset akan dilakukan di Pegunungan Arfak dan Fakfak untuk memahami jejak migrasi manusia Papua, keragaman bahasa lokal, hingga hubungan populasi Papua dengan kawasan Wallacea. Pertemuan ini turut dihadiri Kepala BRIDA Papua Barat sekaligus Plt. Kepala Bappeda Papua Barat Prof. Dr. Charlie D. Heatubun, S.Hut, M.Si, FLS, Wakil Rektor UNIPA Dr. Yusuf Sawaki, Direktur RSUD Papua Barat dr. Arnoldus Tiniap, antropolog UNIPA Adolof Ronsumbre, perwakilan Dinas Kesehatan Papua Barat, serta akademisi dan peneliti UNIPA lainnya. Kolaborasi riset ini diharapkan memperkuat basis data genetika populasi Papua sekaligus membuka pemahaman lebih luas tentang sejarah manusia di Tanah Papua.